RAJA PERTAMA YANG DIMINTA BANGSA ISRAEL Berhasil atau Gagal? Penafsiran dari 1 SAMUEL 8 : 1 sampai 15:35


MAKALAH TAFSIR PERJANJIAN LAMA II

RAJA PERTAMA YANG DIMINTA BANGSA ISRAEL
Berhasil atau Gagal?

                                                    1 SAMUEL 8 : 1 sampai 15:35

DOSEN PENGAMPU : Edward E. Hanock, M.Th           
Di
S
U
S
U
N
OLEH :

Gresye Karunia Rumodar

SEMESTER IV

PROGRAM STUDI: TEOLOGI
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI MORIAH
TAHUN 2017/2018

Gading Serpong – Tangerang



BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Pembahasan kali ini akan pembahas bagaimana seorang Raja pertama yang diangkat untuk memerintah atas Israel yang hanya melakukan satu kesalahan sehingga membuat Samuel sedih dan bahkan sampai mengecewakan Tuhan. Dari kesalahannya itu ia pun diturunkan dari jabatannya yaitu Raja Israel. Dan ada beberapa masalah masa sebelum dia diangkat dan diberhentikan menjadi Raja. Masalah-masalah tersebutlah yang akan dibahas dan diungkap dalam penafsiran kali ini.

B.     RUMUSAN MASALAH

Dalam makalah kali ini akan dibahas beberapa masalah yang menjadi topik untuk dibahas, diantaranya :

  1.         Bagaimana penjelasan Ayat sebelumnya mengenai orang Israel yang menghendaki seorang Raja?
      2. Bagaimanakah rekonstruksi dalam kitab 1 Samuel 8 sampai 15:35?
     3. Apa saja Permasalahan yang ada, dan akan dilakukan penafsiran dalam 1 samuel 8 sampai 15:35?

C.    TUJUAN PENULISAN

·         1. Untuk mengetahui  penjelasan Ayat sebelumnya mengenai orang Israel yang menghendaki seorang Raja

·        2. Untuk mengetahui rekonstruksi dalam kitab 1 Samuel 8 sampai 15:35?

·       3. Untuk mengetahui Permasalahan yang ada, dan akan dilakukan penafsiran dalam 1 samuel 8 sampai 15:35

·         4. Untuk memenuhi persyaraatan UAS dari dosen pengampu TAFSIR PERJANJIAN LAMA II


BAB II

PEMBAHASAN

RAJA PERTAMA YANG DIMINTA BANGSA ISRAEL


A.    PENJELASAN AYAT SEBELUMNYA

Di dalam Ayat sebelumya dilihat bahwa Samuel sebagi seorang hakim memiliki peran yang sangat besar pada saat itu. Dalam posisinya dia bisa dikatakan sebagai Raja yang memerintah pada saat itu meski status dia sebagai seorang hakim. Dalam 1 Samuel 7:17 mengatakan lalu ia kembali ke Rama, sebab di sanalah rumahnya dan di sanalah ia memerintah atas orang Israel; dan di sana ia mendirikan mezbah bagi TUHAN.” kata yang bercetak tebal dan garis bawah ini menjelaskan bahwa ternyata hakim pada saat itu yang memerintah, atau yang memimpin atas Israel. Sebenarnya tugas hakim ini sudah mulai dijalankan oleh Musa sewaktu masih di padang gurun di dalam (Hakim-hakim 2:10-23). Jabatan "hakim" ini tidak diwariskan dari bapa ke putranya, kecuali pada zaman Samuel. Hakim ini mengadili bangsa Israel atau suku-suku tertentu, meskipun tidak dijelaskan detail.

B.     REKONSTRUKSI 1 SAMUEL 8 SAMPAI 15:35

Samuel yang setia kepada Tuhan dalam seluruh kehidupannya mengangkat anak-anaknya sebagai Hakim menggantikan dia, kedua anaknya yaitu Yoel dan Abia. Namun anak-anaknya ini tidak memiiki sifat yang sama dengan ayah mereka. Pada waktu para tua-tua di Israel meminta Raja, Tuhan mengizinkan bangsa Israel untuk memilikinya. Samuel mengikuti pengarahan Tuhan dan mengurapi Saul menjadi Raja, seorang yang dari keturunan Benyamin dan Saul menguatkan kedudukannya sebagai Raja dengan mengalahkan orang-orang Ammon. 

Yonatan sebagai putra dari Saul yang adalah seorang Raja yang gagah berani, mengalahkan garnisun orang Filistin atau orang-orang Filistin (1 Samuel 13:3,5). Orang Filistin menyerang Israel dengan pasukan yang besar. Saul menjadi panik dan berlaku tidak taat dengan mempersembahkan korban bakaran sendiri. 

Dengan hanya diringi orang yang membawa senjatanya,Yonatan dengan beraninya menyerang pos pertama dari bangsa Filistin. Namun sumpah Saul yang terburu-buru diucapkan, melemahkan kekuatan pasukan utnuk memenangkan peperangan. Saul pergi berperang kesegala penjuru (1 Samuel 14:47) melawan semua musuhnya, dan ia selalu mendapat kemenangan. Namun sewaktu mengalahkan orang Amalek, ia tidak menaati Tuhan dengan membiarkan hidup apa yang telah disuruh Tuhan untuk musnahkan (1 Samuel 15:3) Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai."  

Namun apa yang terjadi, ia tidak melakukannya seperti apa yang telah diperitahkan Tuhan kepadanya ia malah menyelamatkan Raja orang Amalek dan kawanan dombanya, beginilah yang dikatakan Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka.(1 Samuel 15:9).  Akibat dari tindakan Saul, membuat ia pun ditolak oleh Tuhan (1 Samuel 15:10-11) Beginilah yang dikatakan Tuhan : "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku." Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman. (1 Samuel 15:11).

C.    PERMASALAHAN YANG ADA, DAN AKAN DILAKUKAN PENAFSIRAN DALAM 1 SAMUEL 8 SAMPAI 15:35

1.      Bangsa Israel yang meminta Raja untuk dijadikan pemimpin.

Pertanyaan yang mendasar adalah kenapa Samuel harus mengangkat Saul menjadi Raja, sedangkan bangsa Israel sudah memiliki Hakim yang dianggap sebagai pemimpin atau yang memerintah atas Israel. Jika dilihat bahwa kenapa bangsa Israel meminta Raja, salah satu alasannya karena anak-anak yang diangkat oleh Samuel sebagai Hakim itu tidak patut lagi untuk memimpin dan memeritah atas mereka seperti yang dilakukan oleh Samuel dulu. Alasan yang kedua kenapa bangsa Israesiffl meminta Raja, karena mereka melihat bangsa-bangsa lain memiliki Raja, ada yang namanya iri dengan bangsa lain. Kemungkinan inilah yang membuat bangsa Israel meminta Raja. Israel menuntut seorang Raja supaya mereka menjadi seperti bangsa lain. Samuel tidak senang dengan permintaan ini, tetapi Tuhan menyuruh untuk mengurapi Saul. Padahal permintaan akan seorang Raja adalah permintaan yang didasarkan pada dosa menolak Tuhan. Di satu sisi Samuel diperintahkan Tuhan untuk menetapkan seorang Raja (1 Sam 8:7).

2.      Pandangan Samuel yang mendua

Pandangan Samuel agak mendua. Di satu sisi Samuel sendiri mengurapi Saul menjadi raja, namun di sisi lain ia mengecam mereka yang menghendaki seorang raja “seperti bangsa-bangsa lain”. Gejala ini terasa sedikit aneh, akan tetapi dapat diterangkan sebagai berikut: Samuel yakin bahwa keadaan gawat memang membutuhkan seorang raja sebagai pemimpin semua suku, namun seturut keyakinan keagamaannya Penguasa Tertinggi adalah Allah sendiri yang tidak dapat digantikan dengan seorang manusia. Pada bangsa-bangsa lain raja memang  memegang kuasa mutlak, artinya dia dapat bertindak sewenang-wenang. Ada kalanya raja dianggap sebagai seorang dewa atau setengah dewa. Kedudukan seorang raja seperti itu sama sekali tidak dapat direkonsiliasikan dengan agama umat Israel.
Dengan demikian, Samuel setuju bahwa ada seorang raja di Israel, asalkan tidak “seperti pada bangsa-bangsa lain”. Raja umat Allah tidak mempunyai kuasa mutlak. Ia harus taat dan takluk kepada Allah dan menuruti kehendak-Nya. Allah sendirilah yang memilih dan mengangkat raja, tetapi juga menurunkan dan menolaknya, seandainya raja itu bertindak sekehendak hati. Kemudian Allah dapat memilih dan mengangkat raja lain.

3.      Raja yang lupa diri

Kesalahan Saul yang pertama adalah, bahwa dia ingin menjadi “Raja seperti Raja-raja lain”. Kedua cerita mengenai konflik antara Samuel dan Saul memperlihatkan drama pribadi Saul. Ia diangkat menjadi Raja oleh Allah sendiri melalui nabi-Nya, Samuel, maupun dengan jalan membuang undi suci (1Sam 10:17-27) yang menyatakan kehendak Allah. Akan tetapi setelah menjadi Raja, Saul ingin bertindak sewenang-wenang seturut suara hatinya sendiri. Sikap Saul ini terasa sekali dalam cerita yang mengharukan hati mengenai anak laki-lakinya, Yonatan (1Sam 14). Tanpa kenal ampun Saul mau menindak puteranya itu, bahkan membunuhnya. Pada akhirnya rakyat menyelamatkan Yonatan. Ada dua cerita di mana Saul bertindak langsung melawan perintah Allah, yaitu pada waktu orang Filistin datang menyerang (1Sam 13) dan pada waktu Saul ditolak sebagai Raja (1Sam 15). Inilah yang menimbulkan bentrokan antara Samuel sebagai Nabi Allah, dengan Saul sebagai Raja umat Allah.

4.      Raja pertama yang diminta bangsa israel berhasil atau gagal?

Jika dikatakan berhasil ada sedikit keberhasilan yang dicapai oleh Saul yaitu dalam perangnya. Jika dikatakan gagal. Ia pun gagal karena tidak menaati apa yang sudah Allah katakan padanya dengan kata lain ia tidak menuruti perintah Allah sehingga Allah pun menyesal atas apa yang sudah ia lakukan (1 Samuel 15:10-11). Sehingga ini dikatakn sebagai kegagalan hal inii juga membuat Samuel menjadi sakit hati terhadap perbuatan Saul. Sakit ini yang menimbulkan kesedihan akan perbuatan Saul. Ia sangat menyanyangkan perbuatan Saul. Hal tersebut dapat dilihat dari 1 Samuel 15:35. Dari perbuatan Saul tersebut maka Tuhan pun harus memilih gantinya Saul. In menunjukan bahwa Saul pun gagal dalam menjadi seorang pemimpin meski kelihatannya gagah, tampan, dan kuat. Ia bahkan bisa tidak taat juga kepada Tuhan.




BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Bacaan-bacaan dalam 1 Sam 8-15 memuat sejumlah cerita mengenai tampilnya Raja pertama Israel, yaitu Saul. "Kitab Samuel yang pertama" di sini tidak bermaksud untuk memberikan laporan yang teliti dan terinci tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi. Penulis kitab ini hanya ingin menyajikan pandangan keagamaannya mengenai jabatan Raja pada umat Allah. Raja pertama ini justru gagal oleh karena dia tidak berpegang teguh pada jabatannya sebagai Raja atas umat Allah.

Apa yang masih diceritakan tentang Saul dalam cerita-cerita sekitar tampilnya Daud, hanya memperlihatkan bahwa Raja itu semakin mundur dan merosot. “Kitab Samuel yang pertama” hampir saja tidak menceritakan apa-apa tentang pemerintahan Saul. Hal ini kiranya disengaja, sebab sebagai Raja umat Allah, Saul gagal total. Orang-orang Filistin yang pernah dikalahkannya, akhirnya tidak hanya mengalahkan tentara Saul, melainkan juga menewaskan Raja beserta putera mahkotanya (1Sam 31).

Melalui cerita-cerita sekitar Saul, “Kitab Samuel yang pertama” mengajarkan kepada umat dan khususnya kepada para raja, di manakah kedudukan Raja yang sebenarnya. Seorang Raja umat Allah hanyalah seorang abdi (pelayan, hamba) Raja yang sesungguhnya. Dia diangkat dan dipilih oleh Allah untuk memerintah dan membimbing umat-Nya sesuai dengan kehendak Allah. Maka, jika Raja tidak setia, dia pun diganti dengan seorang lain. Kekuasaan memang senantiasa menjadi godaan bagi siapa saja yang memegang kekuasaan itu. Kitab Samuel mengingatkan para penguasa pada umumnya agar tidak pernah mempunyai kuasa mutlak. Kuasanya senantiasa harus terikat pada kehendak Allah, satu-satunya penguasa manusia. Israel pernah dimerdekakan oleh Allah dari perbudakan di negeri Mesir, dan tidak pernah umat ini boleh diperbudak lagi oleh manusia, biar pun oleh seorang Raja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAFSIR PERJANJIAN LAMA II 1 SAMUEL 2:11-36 1 SAMUEL 4:12-22

Bagaimana menafsir KELUARAN 6:1-8